Kamis, 17 Juli 2014

Bunga di Atas Batu by Aesna


Judul: Bunga di atas Batu
Penulis: Aesna
Genre: teenlit
Penerbit: Moka Media
Halaman: 132 halaman

Sinopsis:

Iris yang baik,

Setelah kupertimbangkan masak-masak, beginilah akhirnya cara yang kupilih. Bukan supaya diriku terelak dari duka perpisahan. Ketahuilah, pada huruf-huruf terakhir setiap kata yang kutulis, kesedihan menderaku tanpa ampun bagaikan pesuruh Zeus mendera Prometeus yang malang (bukankah kamu menyukai dongeng-dongeng Yunani?). Kutahankan rasa sakit itu demi hal-hal yang mungkin bisa kujelaskan lebih baik secara tertulis ketimbang dibicarakan langsung. Jika terasa tidak adil, maafkanlah.

Manakala surat ini sampai padamu, telah jauh aku meninggalkan rumah dan “tempat rahasia kita.” Tapi yakinlah, jarak di antara dua manusia bukan melulu perkara terlihat atau tidaknya sosok, terdengar atau tidaknya suara, terasa atau tidaknya sentuhan, terhirup atau tidaknya aroma masing-masing. Selama ini, misalnya, dengan bertemu setiap hari, seberapa dekat sebenarnya hati kita? Seberapa banyak kau mengerti perasaanku atas dirimu dan sebaliknya?

My Review:

Bunga di atas Batu merupakan sebuah kisah tentang hubungan antara dua orang sahabat; Iris dan Bara. Ide yang dimiliki penulis untuk kisah ini sesungguhnya sangat manis dan bisa saja membuat galau pembacanya jika saja penulis bisa mengekspresikannya dengan baik lewat jalinan kata-kata serta adegan demi adegan dalam buku ini. 

Zona teman yang dirasakan Bara terasa kuat pada blurb yang merupakan potongan dari surat yang ditulis Bara untuk Iris. Sayangnya, hanya pada surat itulah saya bisa merasakan perasaan Bara yang sebenarnya. Hanya dari surat itu saya mengetahui bahwa rumah pohon tempat mereka kerap kali bertemu adalah tempat rahasia yang penuh kenangan. Hanya dari surat itu juga, saya bisa merasakan sedikit nikmat saat membacanya. Seandainya saja perasaan yang sama saya rasakan sejak membuka halaman pertama, saya tidak akan segan-segan memberikan rating yang tinggi untuk buku ini.

Jumlah halaman yang terlalu tipis membuat penulis seakan terburu-buru menuliskan ceritanya. Terlalu banyak plot hole yang membingungkan. Tiap adegan hanya ditulis sekelebat saja, seperti sedang menuliskan sinopsis cerita yang belum dikembangkan dan menyebabkan banyaknya pertanyaan; "Kenapa tiba-tiba kayak gini?"; "Ini maksudnya apa?"; muncul dari mulut saya berkali-kali. 

Persahabatan antara Iris dan Bara tidak digambarkan dengan jelas, sehingga saya tidak merasakan sebenarnya kedekatan mereka sejauh apa. Kehidupan Iris yang katanya sedih dan sepi itu pun sama sekali tidak bisa saya tangkap. Begitu juga halnya dengan Bara. Selain mengetahui bahwa Bara seorang siswa yang pintar, dan memiliki orangtua yang murah hati, saya tidak tahu apa-apa lagi. Singkatnya, saya tidak bisa related sama tokoh-tokohnya, tidak bisa menaruh simpati pada salah satunya. Saya juga merasa adegan ketika Iris melukai Cut itu semacam alasan yang dipaksakan supaya Hilman bisa melakukan niatnya pada Iris.

Untuk gaya penulisan, menurut saya sudah cukup baik. Akan lebih baik lagi jika diimbangi dengan alur dan plot yang enak untuk dibaca. Saya yakin kalau Aesna tetap rajin menulis dan terus membaca banyak buku-buku bagus yang mendapatkan rating tinggi, Aesna bakal cepat berkembang. Practice makes perfect. :D Mudah-mudahan review ini berguna buat Aesna, ya. Dan tidak lupa, terima kasih untuk Penerbit Moka Media yang telah memberikan kepercayaan pada saya untuk membaca dan mereview buku ini.


XOXO,


0 komentar:

Poskan Komentar