Jumat, 17 Juni 2016

A Court of Thorns and Roses by Sarah J. Maas

★★
Judul: A Court of Thorns and Roses
Author: Sarah J. Maas
Penerbit: Bloomsbury Children's
Genre: Fantasy, Romance, New Adult
Format: ebook, 365 halaman

•••

Sinopsis:

Sebuah serial baru yang mendebarkan dan menggoda dari penulis bestseller New York Times; Sarah J. Maas. Memadukan Beauty and the Beast dengan dunia peri.

Ketika Feyre—seorang gadis pemburu berusia sembilan belas tahun—membunuh seekor serigala di hutan, sesosok monster datang untuk menuntut balas. Diseret ke negeri ajaib yang berbahaya yang hanya diketahuinya dari legenda-legenda, Feyre mendapati bahwa penawannya bukan binatang, melainkan Tamlin—salah satu dari peri yang abadi sekaligus mematikan yang pernah memerintah dunia mereka.

Selama Feyre tinggal di negeri peri, perasaannya pada Tamlin berubah dari permusuhan yang dingin menjadi gairah berapi-api yang membakar melalui setiap kebohongan dan peringatan yang diberitahukan kepadanya mengenai dunia peri yang indah dan berbahaya. Namun, sebuah bayang kegelapan yang jahat dan kuno tumbuh di negeri peri, dan Feyre harus menemukan cara untuk menghentikannya… atau kiamat akan mendatangi Tamlin—dan dunianya—selamanya.
Sempurna untuk penggemar Kristin Cashore dan George R. R. Martin, buku pertama serial yang seksi dan penuh aksi ini sangat mustahil untuk ditutup!

•••

Review:

Review ini penuh spoiler, jadi tanggung sendiri kalau mau baca, yah....

Waktu mendengar bahwa buku ini merupakan re-telling Beauty and the Beast yang adalah kisah favorit saya, buku ini pun langsung masuk ke rak wishlist saya di Goodreads. Sudah penasaran, apalagi dengan hyped yang menggema di mana-mana. Jadi waktu saya diajak seseorang baca ini, saya senang-senang saja menyanggupinya. Dengan segera saya mulai baca, terkesima dengan gaya tulisan Sarah J. Maas dan world building-nya yang cakep. Tokoh Feyre di awal cerita pun terkesan kuat dan bisa diandalkan, sedikit mengingatkan saya pada Katniss di trilogi The Hunger Games. Oh, ya, Feyre punya TTM dan dia nggak ragu bercinta dengan cowok ini meski tahu cowok ini sudah mau nikah dengan cewek lain.

Begitu cerita memasuki kehidupan Feyre di Prythian, saya mulai menemukan kesulitan untuk membaca buku ini tanpa ketiduran. Serius, hanya dua halaman tiba-tiba mata saya sudah merem sendiri, ngantuk berat, dan akhirnya saya tidur. Berulang kali terjadi sampai saya heran sendiri. Pace cerita di Prythian ini sangat lambat, itu penyebabnya. Sekalipun deskripsi setting yang detail membuat saya bisa membayangkan seindah apa Prythian khususnya Kerajaan Musim Semi, saya merasa bosan. Tidak hanya itu, karakter Feyre beberapa kali membuat saya mengumpat dan mencaci kebodohannya, terutama ketika dia dengan sengaja keluar dari kamar saat seharusnya dia sembunyi di sana. Hilang sudah Feyre yang mirip Katniss itu, yang ada tinggal Feyre yang bikin repot orang.

Kekecewaan lain yang saya dapati adalah Tamlin yang seharusnya berperan sebagai Beast sama sekali tidak mencerminkan peran tersebut. Tidak ada raja peri buruk rupa di sini, hanya ada seorang peri tampan dengan topeng indah yang melekat di wajah tanpa bisa dilepas. Sosok Beast hanya jadi semacam kekuatan berubah wujud yang Tamlin miliki. Jujur saja, saya merasa keberadaan topeng tersebut agak konyol. Kenapa tidak sekalian memerangkap Tamlin dalam sosok monsternya? Ditambah lagi sikap Tamlin yang cenderung beta. Lucien malah lebih mencerminkan karakter Beast daripada Tamlin. Oh, iya, di buku ini peri bisa berbohong… padahal secara umum, peri itu diset tidak bisa berbohong. Buat aku ini agak menyebalkan, sih. Kerennya peri kan di situ….

Meskipun romantis, entah kenapa saya kurang merasakan chemistry antara Feyre dengan Tamlin. Tahu-tahu saja mereka sudah saling jatuh cinta sedemikian rupa. Dan bicara soal romantis, buku ini menurut saya kurang tepat disebut YA, mungkin NA lebih cocok karena buku ini mengandung nuansa erotis. Apalagi ketika ritual The Great Rite di malam Fire Night dijabarkan. Saya hanya bisa mengernyit karena polanya mengingatkan saya pada ritual pemujaan tertentu… menggunakan seks untuk melepaskan sihir dan semacamnya, dan dengan samar mengindikasikan adanya pesta seks pada malam itu.

Hal yang saya suka di buku ini adalah hubungan Feyre dengan kakak-kakak perempuannya. Sekalipun kedua kakaknya digambarkan sebagai kakak yang tidak bisa diandalkan, pada akhirnya mereka saling memiliki dan melindungi.

Cerita baru mulai cepat dan tegang ketika Feyre nekat pergi ke Bawah Gunung untuk menyelamatkan Tamlin dari Amarantha. Di sini saya mulai jarang ketiduran. Amarantha dan Rhysand menurut saya lumayan sebagai villain, meski kejamnya rada berlebihan rasanya. Endingnya bisa ditebak, happy ending. Feyre berhasil menyelamatkan Tamlin dan melepaskan kutukan Amarantha, bahkan Feyre akhirnya jadi Peri Agung juga setelah sempat mati. Yah, udah bahagialah, ya.

Kesimpulannya, saya antara suka dan benci sama buku ini. Namun yang jelas, tulisan Sarah J. Maas ini enak dibaca, kok. Deskripsinya bagus dan detail, sayangnya karakternya (khususnya Feyre dan Tamlin) kurang nendang. Ritual The Great Rite mungkin agak terlalu berlebihan untuk pembaca Indonesia (atau hanya saya saja?).

Apakah saya akan membaca buku lanjutannya? Ya, semata-mata karena penasaran, tapi kapannya itu yang jadi pertanyaan. Hehe.


XOXO,


0 komentar:

Poskan Komentar