Rabu, 02 September 2015

When the Star Falls by Andry Setiawan

Judul: When the Star Falls
Penulis: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Genre: Romance, Sicklit
Format: Softcopy, 204 halaman


Sinopsis:
Tahu tidak, bintang itu cahaya masa lalu?
Bintang itu, adalah orang yang mati yang meninggalkan seseorang yang ia cintai di bumi.

Lynn, boleh kan aku mengingatkanmu sekali lagi tentang kita?
Tentang bagaimana kita bertemu. 
Juga tentang bagaimana kita bertengkar dan berbaikan.
Lalu tentang ciuman pertama kita, dan juga tentang perjalanan kita selama ini.

Aku hanya berharap, besok kau tidak melupakannya lagi.
Karena itu, aku tulis semuanya di buku ini.
Agar saat kau lupa, kau bisa membukanya lagi dan membacanya.
Tentang kita.

Sampai salah satu dari kita menjadi bintang.
Sampai bintang itu jatuh dan menjemput salah satunya.

Bintang terjatuh karena ia mengejar orang yang dicintainya, yang sudah menyusul dirinya.


Review:

Sebelumnya terima kasih kepada penulisnya yang sudah memberikan ARC novel ini untuk saya baca lebih dulu sebelum terbit di bulan Oktober nanti.

Cerita dimulai ketika Lynn tersadar setelah operasi pengangkatan tumor. Lynn amnesia, dan dia melupakan banyak hal penting dalam hidupnya, terutama Sam—pacarnya. Sesuai janji yang diucapkan Sam sebelum Lynn menjalani operasi, Sam pun setiap hari menceritakan kisah pertemuan mereka, sejak masih SD sampai mereka jadian. Kesabaran Sam membuat saya terharu, tapi karakter Sam yang pengecut membuat saya kesal sebagai seorang perempuan. Astaga, cowok kok begitu amat? Pikirannya jelek-jelek terus. Gampang banget diintimidasi sama orang lain. Minder dan perlu dilindungi sama Lynn sejak kecil. Tapi sebagai pembaca, aku suka keunikan ini. Biasanya tokoh cowok dalam buku itu ganteng, bisa diandalkan, pokoknya bikin deg-degan. Sam berbeda. Sam bikin pembaca mau tabokin dia gitu. Dan karakter dia memang cocok dengan Lynn yang dominan dan kuat. Makanya Lynn bilang, dia mencintai Sam karena merasa dibutuhkan—meski buat melindungi.

Satu hal yang paling saya suka dari buku ini adalah karakter-karakternya. Plus minusnya mereka menurut saya terasa pas. Penulis cukup kuat membangun karakternya. Ini poin plus menurut saya.

Karakter yang paling tidak saya suka adalah Leon. Suka ikut campur masalah orang, kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak disaring lebih dulu sehingga sering membuat orang sakit hati. Tapi lagi-lagi, dalam kehidupan nyata memang ada saja orang yang seperti Leon. Sisi positifnya adalah Leon setia kawan sekali dengan Billy.

Lalu, aku juga agak kesal dengan ayah Lynn. Oke, aku paham kegalauan orangtua melihat anaknya sakit parah. Tapi apa yang dilakukan ayah Lynn benar-benar... ergh... bikin saya mau remes-remes buku (eh saya bacanya soft copy jadi nggak bisa ngeremes). Ya, yang benar saja om nggak pernah ngejenguk anaknya? Pas udah pulang ke rumah juga nggak pernah menemui anaknya dan ngajak ngobrol? Aduh... saya ngerti om kayak gitu karena sayang banget sama Lynn. Tapi ya bijaksana dikitlah... masa nggak mikirin perasaan Lynn gitu?

Terus twistnya pas mau ke ending...

Maaf ya, tapi saya nggak bisa suka sama twistnya. Menurut saya penyajiannya kurang smooth. Ini selera pribadi saja, sih, karena sepertinya reviewer lain justru suka sama twist ini. Sepanjang perjalanan menuju ke ending, saya akhirnya jadi misuh-misuh sendiri. Walau begitu puisi yang dibuat Lynn pada akhirnya sedikit mengobati kekecewaan saya.

Overall, ceritanya bagus. Deskripsinya enak, cenderung tenang dan lambat. Kalau suka cerita yang bisa bikin galau, buku ini saya rekomendasikan.

Sekali lagi, terima kasih sudah memberi saya kesempatan jadi pembaca pertama.


XOXO,


1 komentar:

Dari cover, ini novelnya haru yang covernya nggak pakek unyu2an tapi tetep mengena. Aku suka sama covernya yang biru tua itu, pas sekali, Terus, itu beneran Sam gampang putus asa? gereget banget. Ini diceritkan dengan POV satu atau POV tiga? Kalo POV satu, jadi kepo tone-nya Sam ><

Poskan Komentar