Kamis, 27 November 2014

Burung Penyanyi yang Terculik


Judul: Stolen Songbird
Penulis: Danielle L. Jensen
Genre: Fantasi, Romance, Young Adult
Penerbit: Fantasious
Halaman: 500 halaman

Sinopsis:


Apa troll merasakan hal yang sama dengan manusia? Apa troll mengenal kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan? Bisakah troll mencintai troll lain? Atau apakah batin mereka sedingin batu yang mengubur mereka di bawahnya?

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Ia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu ia meninggalkan Goshawk’s Hollow. Namun, hal tak terduga menyergapnya, menyeretnya ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Tak ada mimpi seburuk membuka mata dan menyadari bahwa ia diculik ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung. Kota yang dipenuhi oleh makhluk… troll.

Kaum troll mengira Cécile bisa menjadi salah satu kunci melenyapkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Ia pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika ia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Ia sadar, jika ia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan.


Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kaum troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini.

My Review:

Sebelumnya, terima kasih pada Mery yang sudah menawarkan saya buntelan buku ini untuk direview. Seriously, I already so excited to read this book before you asked! Awalnya memang tergiur karena sampul bukunya yang cantik dan bernuansa hijau. Hijau itu warna kesukaan saya banget. Dan ketika baca sinopsisnya di Goodreads, rasanya semakin penasaran lagi mau membacanya. Jarang-jarang yang mengambil setting di dunia troll, apalagi hubungan percintaan antara manusia dengan troll. Di kepala saya, troll itu makhluk-makhluk jelek yang kayak batu raksasa berjalan, penuh iler berlendir seperti yang muncul di film Harry Potter. Kok bisa Cecile jatuh cinta? Jadi mirip Beauty and Beast gitu, dong?


Itu pikiran pertama saya.

Tapi ternyata saya salah besar, saudara-saudara! Troll di buku ini meskipun memiliki keanehan pada fisiknya tapi mereka adalah makhluk-makhluk rupawan. Khususnya Pangeran Tristan yang dijabarkan sebagai sosok yang fisiknya begitu sempurna, setidaknya di dalam imajinasi saya. Anehnya, Marc si sepupu Tristan yang digambarkan wajahnya tidak simetris juga berhasil membuat saya tertarik, bahkan sedikit lebih banyak porsinya daripada Pangeran Tristan. Wakakak... padahal kalau ketemu aslinya saya kabur kali, ya!?

Intinya, kalau kalian belum baca buku ini, nggak perlu khawatir kekurangan cowok-cowok tampan dan gadis-gadis cantik.

Cerita ini bermula pada saat menjelang ulang tahun Cecile ke-16, di mana ibunya akan membawa dia ke kota besar untuk dijadikan seorang penyanyi ternama mengikuti jejaknya. Cecile memiliki suara emas seperti ibunya. Tapi ternyata, Cecile malah diculik dan dibawa ke Trollus; dunia troll yang selama ini tersembunyi karena kutukan yang dirapalkan penyihir Anushka lima abad yang lampau. Alasan mengapa Cecile diculik adalah untuk mematahkan kutukan tersebut berdasarkan sebuah ramalan.


Mata biru dan rambut merah

Kunci dari gairah.
Suara bak malaikat dan tekad kukuh
Dan penyihir gelap akan bersimpuh.
Kematian mengikat dan ikatan mematahkan
Mentari dan rembulan bersatu demi keselamatan.
Pangeran kegelapan, putri terang,
Ikatan membawa ajal penyihir menjelang.
Tarikan napas pertama mereka,
Kala pertama sang penyihir terjerumus nestapa.
Persatukan dua nama dalam syair
& kutukan pun berakhir.



Susan Coffey as Cecile
Cecile yang jago memanah dan berambut merah membuat saya teringat pada karakter Merida dalam film Brave.
Konflik pun mulai terjadi ketika ternyata mengikat Pangeran Tristan dengan Cecile tidak berhasil mematahkan kutukan Anushka. Raja Thibauld pun murka. Hidup Cecile berada dalam bahaya sementara Pangeran Tristan tidak peduli kepadanya. Cerita pun menjadi semakin menegangkan. Percobaan untuk melarikan diri dilakukan. Tindakan gegabah membuat salah satu dari mereka hampir meregang nyawa. Dan pada saat itu juga akhirnya Cecile menyadari perasaannya, tak hanya pada Tristan tapi juga pada penduduk Trollus.

Saya sangat menyukai karakter-karakter yang ada dalam buku ini. Sangat relatable. Saya bisa mengerti kenapa Pangeran Tristan begitu ngotot mempertahankan kutukan Anushka, dan selalu merasa geregetan dengan kepolosan Cecile dalam mempercayai para troll. Berkali-kali saya ngomong ke buku (sampai adik saya kira saya kena gangguan jiwa), "Jangan bego, Cecile. Bener kata Tristan, tuh! Mendingan troll dibiarin aja terkurung, jangan dibebasin." Tapi bukan berarti Cecile adalah karakter yang menyebalkan. Entah kenapa saya menyukai Cecile yang seperti ini.

Fransisco Lachowski as Prince Tristan
Bayangin aja matanya warna perak, trus rambutnya hitam pekat.


Dan siapalah yang nggak bakalan jatuh cinta sama Pangeran Tristan? Meski saya bakal tetap ngumpetin Marc di saku celana saya, saya rela pakai banget untuk menghabiskan satu malam bersama Pangeran Tristan. Gyahahahaha....

Well, membaca buku ini merupakan sebuah perjalanan yang luar biasa. Sampai-sampai saya sengaja berlama-lama karena nggak rela menyelesaikannya. Meskipun takut, saya mau sekali saja menjelajahi Trollus, berjalan-jalan di taman kaca, pergi melihat air mancur di dalam gua... terus tentu saja melihat langsung seperti apa pohon yang menopang seluruh Trollus dengan kekuatan sihir Pangeran Tristan. Apalagi kalau sambil gandengan sama Pangeran Tristan atau Marc, deh. Uwuwuwu~

Nggak sabar menunggu buku-buku lanjutannya! Cepetan terbit, plis!

Kalau kamu belum baca buku ini, buruan baca. 
Kalau tadi masih ragu-ragu, sekarang jangan ragu lagi.


XOXO,









Orinthia Lee

PS.
Beberapa kejanggalan saya temukan dalam edisi terjemahan buku ini, semoga bisa membantu saat cetakan berikutnya nanti.
1. Hal 133 ada kalimat yang agak aneh terjemahannya: 'Aku berhenti sejenak dari sesekali untuk mengamati bunga-bunga, dst. Berhenti sejenak dari sesekali... mungkin harusnya berhenti sesekali atau berhenti sejenak lebih dari sekali?
2. Hal 273. Kurang kata 'keluar' di kalimat:
"Aku berdiri, tak sengaja menjatuhkan kursi, dan bergegas dari ruangan blabla..."

0 komentar:

Poskan Komentar