Sabtu, 06 Desember 2014

Heartbeat by Elizabeth Scott


Title: Heartbeat
Author: Elizabeth Scott
Publisher: Harlequin Teen
Genre: Young Adult, Romance, Realistic Fiction, Family
Format: ebook (240 halaman)

Synopsis:

Does life go on when your heart is broken? 

Since her mother's sudden death, Emma has existed in a fog of grief, unable to let go, unable to move forward--because her mother is, in a way, still there. She's being kept alive on machines for the sake of the baby growing inside her. 


Estranged from her stepfather and letting go of things that no longer seem important--grades, crushes, college plans--Emma has only her best friend to remind her to breathe. Until she meets a boy with a bad reputation who sparks something in her--Caleb Harrison, whose anger and loss might just match Emma's own. Feeling her own heart beat again wakes Emma from the grief that has grayed her existence. Is there hope for life after death--and maybe, for love?

My Review (in Bahasa Indonesia):

Under the idea that we can all make our fates, that we have choices, is the reminder that sometimes we don't. That sometimes life is bigger than our plans. Bigger than us.


Aku sudah jatuh hati pada buku ini saat membaca sinopsisnya di Goodreads lantas meminta ARC buku ini lewat netgalley. Keputusan itu ternyata merupakan keputusan yang tepat, karena aku pun jatuh cinta pada cerita di dalam buku ini. Tapi dasar aku pembaca yang lambat kalau berurusan dengan ebook, apalagi galley hanya bisa dibuka pakai Aldiko di Android atau pakai Adobe Digital Reader di laptop, aku jadi semakin lelet bacanya plus ditinggal-tinggal karena baca buku-buku lain juga. Akhirnya, aku coba mencari ebook dengan file PDF atau EPUBnya, dan syukurlah ternyata ada. Jadi aku bisa baca di Nook yang jauh lebih nyaman untuk mata.

Heartbeat berisi kisah tentang keluarga, dengan sedikit bumbu percintaan. Tema yang diangkat adalah tentang kesedihan karena ditinggal oleh anggota keluarga melalui kematian. Cukup berat, memang. Tapi penulis berhasil menuliskannya dengan cara yang enak dibaca, malah buat saya terasa hangat.

Sejak ibu Emma meninggal mendadak saat sedang hamil tua, Emma terpuruk dalam duka. Dia nggak bisa menerima kematian ibunya, dan melemparkan kesedihannya dengan menyalahkan Dan--ayah angkatnya--karena memutuskan untuk mempertahankan bayi dalam kandungan ibunya tanpa persetujuan darinya. Dengan ilmu kedokteran, ibu Emma dipaksa hidup supaya bayi di dalam perutnya bisa tetap hidup hingga waktunya lahir. Hal ini membuat hubungan antara Emma dan Dan berantakan, kepercayaannya pada pria itu seakan luluh lantak. Dan Emma takut Dan akan membuangnya setelah kematian ibunya.

Saat itulah Emma bertemu dengan Caleb, teman sekolahnya yang terkenal karena perilaku buruknya. Awalnya, Emma pun menghindari pemuda itu. Olivia, sahabat Emma pun, tidak mendukung adanya hubungan antara Emma dengan Caleb. Tapi, saat Emma mencoba untuk menyelami hati dan kehidupan pemuda itu, Emma pun menemukan bahwa dia bisa mengerti dan menerima Caleb apa adanya. Aku suka sekali dengan perkembangan hubungan mereka berdua. Meski tidak menjadi porsi utama, tapi terasa pas dan manis.

Perkembangan karakter dalam buku ini pun sangat terasa sampai rasanya aku mengenal baik tiap pribadi yang ada. Ini bukti bahwa penulis berhasil menciptakan karakter yang kuat. Membaca buku dengan karakter yang kuat itu adalah sebuah kepuasan tersendiri buatku. Plus, ending buku ini sangat hangat.

Aku berharap penulis bakal menulis buku tentang Caleb dan keluarganya. Benar-benar berharap keluarga Caleb bisa melewati kesedihannya yang berlarut-larut itu.


XOXO,


2 komentar:

Aku suka banget ama buku ini. Ceritanya nggak maksa, ngalir dengan natural padahal tema sicklit rada klise.
aku jadi jatuh hati sama HQ Teen.

Ya, ampun aku kirain Keke siapa... pas liat avatarnya baru ngeh whahawhwaa....
Aku suka sicklit, sih... biasanya baca punya Lurlene McDaniel, baru kali ini nyicip Elizabeth Scott dan... SUKA! xD
Aku jadi pengen koleksi paperbacknya, Ci! Covernya cantik banget... huhuw...

Poskan Komentar