Kamis, 12 Februari 2015

Prodigy by Marie Lu


Judul: Prodigy
Penulis: Marie Lu
Penerbit: Penerbit Mizan, Mizan Fantasi
Genre: YA, Dystopia, Fantasi, Romance
Edisi: Bahasa Indonesia, Paperback, 468 halaman

Sinopsis:

Setelah berhasil meloloskan diri dari eksekusi publik, Day yang ditemani oleh June lari ke Las Vegas. Mereka memerlukan bantuan Kelompok Patriot untuk menyembuhkan luka tembak di kaki Day, menemukan Eden, serta menyelundup ke Koloni. Sebagai balas budi, Day dan June harus membantu menyulut pemberontakan rakyat Republik dan membunuh Elector yang baru, Anden. June bersedia melakukan apa pun demi Day, namun instingnya mengatakan bahwa Anden tidaklah sekejam Elector sebelumnya dan rencana pembunuhan ini adalah sesuatu yang salah. Selain itu, ada yang mencurigakan dalam diri Razor, pemimpin Kelompok Patriot. June berusaha membuat Day sepaham dengannya, tapi Day sudah terlanjur digelapkan oleh amarah pada pemerintahan Republik.

Dalam dunia yang kacau balau ini, masing-masing pihak berpegang teguh pada apa yang mereka yakini. Pihak manakah yang pada akhirnya akan menang? Berhasilkah June meyakinkan Day untuk menyabotase rencana pembunuhan Elector? Dan setelah semua ini berakhir, dapatkah June dan Day tetap bersama?


PRODIGY adalah sekuel dari novel LEGEND yang telah berhasil menjadi New York Times bestseller. 


My Review:

Peringatan sebelumnya, yang ditutupi dengan highlight hitam itu adalah spoiler, jadi kalau penasaran, silakan liat dengan resiko sendiri. Wahahaha....

Aku ingat mimpiku tentang apa yang akan kulakukan setelah semua ini selesai.... Lari ke Koloni bersama June, Tess dan Eden.... Memulai hidup baru, meninggalkan Republik. Mungkin aku telah berusaha kabur ke tempat yang salah dan lari dari hal-hal yang salah. Kuingat-ingat seluruh waktu yang kuhabiskan untuk melawan para tentara. Kebencian yang kurasakan pada Anden dan semua orang yang tumbuh sebagai orang kaya. Kemudian, kubayangkan sektor kumuh tempatku tumbuh. Aku memandang rendah Republik, ya kan? Aku ingin melihatnya tumbang, kan? Tapi, baru sekaranglah aku membedakan—aku memandang rendah hukum Republik, tapi aku cinta Republik itu sendiri. Aku cinta rakyatnya. Aku tidak melakukan ini untuk Elector; aku melakukan ini untuk mereka.

Buku kedua dari trilogi Legend ini makin seru aja. Makin banyak aksi menegangkan yang bikin susah buat nutup buku. Ada rahasia mengejutkan yang terungkap di saat-saat yang sangat mepet, bahkan nyaris saja membuat nyawa melayang karena resikonya. Aku sangat salut dengan cara berpikir June. Sebagai seorang perempuan, June adalah karakter yang berkepala dingin. Dia tidak ditelan oleh kebencian sampai gelap mata, dan karena Junelah, Day jadi tidak mengambil keputusan yang salah.

Mereka berdua pada akhirnya berhasil mencapai Koloni Amerika setelah misi pembunuhan Elector Primo digagalkan. Dan apa yang dilihat oleh mata begitu indah, ternyata tidak sebegitu indah jika dilihat lebih teliti. Bayangan Day tentang Koloni salah sama sekali. Yah, di mana-mana pasti ada aja boroknya, sih. Adegan paling tegang di buku ini adalah ketika Day, June, bersama dengan Kaede (tokoh pendamping favoritku) kembali ke Republik dengan mencuri jet milik Koloni. Kaede kereeeen...! Aku sampai merasa sulit bernapas ketika pesawat mereka melewati perbatasan yang jadi medan perang antara Republik dengan Koloni. Dan aku hancur hati ketika menyadari bahwa karakter pendamping favoritku yang keren banget itu tidak akan bertahan lama, dan benar saja begitu pesawat jet mendarat, gadis kesayanganku ini sudah tiada. Aku sampai teriak "Andwaaaaaaaaaaaeeee!" di kamar... iya, ga tau napa yang kuar bahasa Korea =)).

Ending buku ini benar-benar membuat saya tidak bisa tidak melanjutkan langsung ke Champion, meski sudah diperingatkan oleh Ayu Rianna dan Ko Oliver bahwa buku ke-3 akan lebih membuat hati saya berkeping-keping. Jadi saya susun lagi hati saya yang pecah-pecah karena buku ke-2 supaya pas baca Champion, hati saya bisa pecah-pecah lagi. #kedengaranmasokissekali

Marie Lu, Anda keren banget... tularkan kekerenan itu ke saya, plis!



XOXO,








PS: Saya masih nggak suka (dan kayaknya bakal tetap nggak suka) sama cover yang dipakai Penerbit Mizan buat seri ini. Berharap trilogi ini bakal dicetul dengan cover aslinya.


0 komentar:

Poskan Komentar