Selasa, 17 Maret 2015

Walking After You by Windry Ramadhina

Judul: Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Genre: Romance
Penerbit: Gagas Media
Format: Paperback, 328 halaman

Sinopsis:

Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

My Review:

Barangkali kamu sudah bosan kalau saya bilang Windry Ramadhina adalah salah satu penulis yang novelnya pasti akan saya beli tanpa pikir panjang. Sejak membaca Orange, lalu dilanjutkan dengan Memori yang merupakan favorit saya dari semua bukunya, saya menjadi penggemar tulisannya, dan selalu penasaran dengan kisah-kisah yang ditulisnya. Syukurlah, sampai hari ini Windry tidak pernah mengecewakan saya (kecuali Metropolis yang belum saya baca). Dia selalu berhasil membuat saya menutup bukunya dengan desah puas, termasuk juga dengan buku terbarunya ini.

Di buku kali ini, Windry mengambil profesi yang berkaitan dengan dunia kuliner, dan saya sangat suka membaca buku-buku yang mengambil dunia tersebut. Apalagi jika berhasil mengemasnya dengan baik sehingga saat membaca saya bisa membayangkan seperti apa makanan dan kue-kue yang disajikan. Benar-benar kepuasan tersendiri. Hahaha. Lalu poin plus lagi, tokoh Julian digambarkan seperti orang Korea yang berparas seperti tokoh komik. Duh, tipe saya banget. Jadilah saya menikmati cerita ini dengan senikmat-nikmatnya. Membayangkan Julian sesuka saya, dan rasanya ingin tertawa terus tiap kali An berhasil membuat Ju merah padam karena malu.

Tidak hanya itu, Windry juga menambahkan problem keluarga di balik kisah cinta yang manis antara An dengan Ju. Sesuatu yang berhasil bikin saya pedih karena ikut merasakan kesedihan An. Tokoh-tokohnya lovable sekali menurut saya (meski saya merasa sedikit kesal seperti Galuh waktu An bertingkah kepo ingin tahu urusan Ayu yang adalah tamu di Afternoon Tea). Bahkan tokoh Jinendra membuat saya merasa kasihan, tapi juga salut karena kebesaran hatinya.

Kue-kue terutama souffle cake buatan Ju benar-benar bikin air liur menetes. Ingin sekali mencicipi seenak apa sih souffle cake itu? Lalu ingin juga mencicipi masakan An, kebetulan saya juga suka sekali masakan Italia. Bisa nggak ya satu hari saja Afternoon Tea sungguh-sungguh ada di dunia? Saya pengin mampir dan ikutan dengan pelanggan lain memandangi Ju dengan kekaguman. Hihihi....

A very sweet reading! Good job again my talented sis, Windry!


XOXO,

3 komentar:

Wahhhh... Saya penasaran sama buku kak Windry yang Memori.
Selama ini belum kesampaian baca buku-bukunya. Pengen baca!

Ayo cobain baca bukunya Kak Windry, bakal ketagihan deh :D

Poskan Komentar