Sabtu, 07 Maret 2015

Where Rainbows End by Cecelia Ahern

 
Judul: Where Rainbows End / Love, Rosie
Penulis: Cecelia Ahern
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance, Chicklit
Format: Mass Market, 632 halaman, Bahasa Indonesia

Sinopsis:


Mulai dari anak-anak nakal sampai menjelma jadi remaja pemberontak, Rosie dan Alex selalu bersama-sama dalam susah maupun senang. Namun sayang, di tengah-tengah serunya masa remaja, mereka harus berpisah. Alex dan keluarganya harus pindah ke Amerika. Untuk selamanya.

Rosie benar-benar tersesat tanpa Alex. Namun pada malam sebelum keberangkatannya untuk bersatu lagi bersama Alex, Rosie mendapat kabar yang akan mengubah hidupnya selamanya---dan menahannya selamanya di tanah kelahirannya, Irlandia.


Tetapi ikatan di antara keduanya terbukti sanggup melewati suka dan duka dalam hidup mereka masing-masing. Namun sayang, tak satu pun dari mereka benar-benar yakin hubungan mereka sanggup menghadapi perubahan yang lain, yakni CINTA.

My Review:

Ini buku kedua Cecelia Ahern yang aku baca setelah A Place Called Here. Dan aku bisa bilang bahwa aku lebih suka buku ini daripada APCH (meski aku juga suka sama buku itu). Meski ceritanya disampaikan dalam bentuk surat, e-mail, chatting di IM, juga di chat room, rasanya sama sekali tidak membosankan. Malah membuat aku sering terbahak-bahak gara-gara cara ngomong tiap karakternya yang lucu-lucu. Buku ini benar-benar susah sekali buat diletakkan. Bahkan aku nggak sanggup baca campur-campur dengan buku lain kecuali satu buku karena buat urusan kerjaan. Intinya, tiap ada waktu luang, buku ini langsung aku baca.

Hebatnya buku ini adalah perasaan campur-campur yang muncul saat baca. Ada geregetan gara-gara kedua tokoh utamanya yang nggak juga jadi-jadi sampai perlu waktu puluhan tahun, ada haru, ada sedih, tapi kebanyakan ngakak. Terutama tiap kali baca surat-surat Katie kecil buat pacar-pacarnya Alex, dan ayah tirinya. Plus, adegan paling bikin aku ngakak sejadi-jadinya adalah ketika Rosie curhat ke Ruby soal apa yang terjadi saat dia mabuk karena stress di sebuah bar kumuh ditemani seorang pelayan ramah dan dua orang pria berbadan besar yang tampangnya seperti pembunuh bayaran. Artikel yang dipasang setelah curhat itu bikin saya nggak bisa nggak ngakak sampai puas sambil nyukur-nyukurin si siapaitunamanya.
Salah satu hal yang menurutku menarik juga adalah kebiasaan kecil yang dimiliki Alex lalu tanpa sengaja diikuti oleh Katie kecil, yaitu mengucapkan kata TAHU dengan TAU. Kalau di versi Inggrisnya KNOW jadi NO. Hal kecil yang entah gimana memberi kesan sendiri.

Persahabatan Rosie dan Alex yang langgeng sampai usia tua itu bikin iri banget. Juga persahabatan Katie dan Toby. Aku sendiri juga punya sahabat cowok semasa sekolah yang saking dekatnya, kita berdua kayak punya perjanjian tak terucap di mana selama kami berdua nggak punya pacar, maka kami adalah pacar masing-masing. Wkwkwk.... kesannya kayak males banget jadi jomblo ya. Tapi sayangnya, setelah sahabatku ini menikah... dia kayak hilang begitu saja. Raib. Mungkin dia marah karena aku nggak bisa datang ke pernikahannya. T___T Maap ya, Ben! Kalau kebetulan lo baca review ini (kemungkinannya 1 : jumlah  bintang di langit sih...), kirimlah e-mail ke gue biar gue tahu lo masih idup apa nggak! :'<

Well, balik ke buku... kesimpulannya adalah aku sangat puas dengan akhir ceritanya. Memang kalau udah jodoh nggak bakal ke mana-mana. Pada akhirnya pasti akan bersatu meski tega juga sih dipersatukannya setelah umur 50 tahun. Yah, namanya juga cinta. Berliku-liku tapi berakhir bahagia. I'm so going to read another books written by Cecelia Ahern!

Nah, sekarang waktunya nonton versi filmnya.

Daaah~


XOXO,



0 komentar:

Poskan Komentar