Rabu, 01 Mei 2013

Blue Romance by Sheva

4 stars
Judul: Blue Romance
Penulis: Sheva
Genre: omnibook/ kumpulan cerpen, romance
Sinopsis:

Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?



My Review:
Buku ini nggak hanya manis dari luar, tapi juga manis di dalamnya. Sampai ke bookmark-nya pun sama manisnya. Penasaran dengan buku ini waktu tanpa sengaja melihat timeline Goodreads, Fenny Wong memberi rating 4 bintang buku ini, dan membaca review-review lain di bawahnya semua positif. Kebetulan aku suka cerita-cerita pendek yang saling nyambung seperti ini. Jadi, deh begitu di toko buku, aku langsung ambil buku ini.

Kesan pertama waktu megang buku ini dan melihat-lihat dalamnya tentu saja datang dari cover serta ilustrasi-ilustrasi cantik yang bertebaran di dalam buku. Aku kebetulan suka sekali minum kopi, dan buku ini rasanya seperti kopi jenis baru yang tak sabar untuk kucicipi. Dan begitu memasuki cerita pertama, aku langsung merasa cocok dengan kopi yang satu ini.

Rainy Saturday membuatku mencicipi manisnya affogato yang diminum si tokoh utama perempuan. Kisahnya manis, semanis affogato-nya. Aku sendiri belum pernah mengalami hal seperti itu dengan lawan jenis. Selama ini kalau pun terpaksa ngobrol dengan orang asing yang akhirnya malah berakhir dengan bertukar kontak itu selalu dengan sesama perempuan. Kapan yah kejadian...? *ngarep*

Dua kisah yang jadi favorit aku di buku ini adalah A Farewell to A Dream dan A Tale About One Day. Tokoh Bima di A Farewell to A Dream itu salah satu tipe orang yang selalu bikin aku gemas dan bertanya... "Kenapa kamu harus ambil keputusan kayak gitu?" sekaligus menyadarkan aku lagi bahwa tiap orang punya pemikiran yang beda-beda, kadang sulit untuk dimengerti dan bikin yang melihatnya jadi nyesek. Terus cerita yang terakhir... itu manis. Bikin berdebar-debar walau di pertengahan cerita aku sudah bisa menebak ceritanya seperti apa. I like it.

Aku sendiri punya draft cerita berlatar toko seperti ini, tapi bukan kafe. Kayaknya menyenangkan juga kalau draft itu kujadikan omnibook seperti ini. xD

4 komentar:

Hihi, glad you picked it up setelah baca reviewku. Orin, tukeran link dong, mau ga? :)

Tukeran link blog? :D Hayuk aja.

Udah ku-link, yah, Orin. :D

Poskan Komentar