Minggu, 24 April 2016

Persona by Fakhrisina Amalia

★★★★★
Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: realistic fiction, drama, young adult
Format: Paperback, 248 halaman

•••

Sinopsis:

Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

•••

Review:

Peringatan pertama, jangan terlalu percaya pada sinopsis yang menyesatkan. Hahaha. Sinopsis di belakang buku ini menyiratkan kisah cinta segitiga yang sangat kental. Tapi percayalah, novel ini memberikan lebih dari sekadar cinta segitiga!

Ini adalah buku kedua penulis yang aku baca. Buku pertama Iis yang kubaca itu Confession, dan buku itu berhasil membuat aku menyukai tulisan Iis sehingga ketika ditawarkan untuk menjadi salah satu host blog tour buku barunya, aku langsung terima dengan riang gembira tak peduli jadwal review aku bulan ini sudah tumpang tindih. Harapan itu tidak hancur, aku benar-benar menyukai buku ini dan senang sekali mengetahui ekspektasiku terpuaskan.

Masalahnya sekarang, bagaimana cara aku mereview buku ini tanpa memberikan spoiler? Seperti yang selalu aku katakan, menulis review buku yang bagus itu susah karena rasanya banyak sekali yang ingin diceritakan, persis seperti kalau lagi heboh pengin orang lain ikut baca buku ini dan merasakan hal yang sama denganku. Bedanya, kalau nyuruh orang tinggal panas-panasin bilang bagus banget, sementara kalau review isinya cuma satu-dua kata bisa-bisa aku dipenggal sama editor GPU yang nawarin aku, lalu dimutilasi sama Iis.

Jadi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menulis reviewnya.

Cerita ini dimulai dengan adegan yang bikin penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi hingga kejadian yang di awal itu bisa terjadi. Siapa yang sudah pergi? Penasaran. Ini perginya gara-gara mati atau apa?

Karena kepo, membaca pun berlanjut.

Adegan berikutnya menampilkan Azura yang ternyata seorang pengiris. Kekepoan mulai terbakar. Biasanya orang yang suka mengiris pergelangan tangan pasti punya masalah yang berat, dan begitu juga dengan Azura. Dia seorang anak yang broken home, dan mengiris menjadi pelariannya. Sampai suatu saat, Altair muncul dalam kehidupannya. Altair Nakayama, seorang blasteran Jepang yang baru pindah ke sekolah yang sama dengan Azura, bahkan mereka satu kelas. Altair selalu mengekori Azura sampai akhirnya mereka jadi bersahabat dan Azura tanpa sadar jadi bergantung pada Altair. Azura bahkan bisa berhenti mengiris, dan melupakan Kak Nara yang disukainya karena dia jatuh cinta pada Altair. Hubungan Azura dengan Mama pun perlahan membaik.

Tapi suatu hari, Altair tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Azura sama sekali tidak bisa menghubunginya. Sampai Azura lulus SMA, lalu kuliah, Altair tidak pernah muncul. Saat kuliah, Azura bertemu dengan Yara yang kemudian menjadi sahabatnya. Kehadiran Yara membuat Azura tidak lagi terlalu memikirkan soal Altair. Azura menjalani kehidupannya dengan baik, dia seperti mendapat keluarga baru saat berkenalan dengan keluarga Yara. Kak Nara juga ternyata adalah kakaknya Yara. Azura dengan Kak Nara pun jadi mulai dekat lagi.

Dan kemudian, ketika aku mengira cerita sudah hampir selesai... tiba-tiba keajaiban terjadi, kekuatan muncul di diri ada sesuatu yang besar terjadi dalam hidup Azura. Hal ini membuat Azura mengiris tangannya lagi, dan Altair kembali.

Siapa sebenarnya Altair? Waktu kemunculannya di SMA, aku sudah berspekulasi sendiri. Tapi ternyata, meski tidak terlalu melenceng, spekulasiku salah. Keadaan pun menjadi semakin kacau ketika jati diri Altair akhirnya terungkap, dan perlahan, plot mulai mengarah ke awal cerita. Misteri demi misteri terjawab sampai aku hanya bisa ber-oooh saja sampai akhirnya cerita berakhir.

Lalu, masuk ke epilog... oooh berubah menjadi HAH?! Gitu....

Iis, epilognya bikin aku pengen neror kamu biar nulis lagi lanjutannya. #WOI

Oh, iya. Satu lagi yang aku suka, settingnya di Palangka Raya dengan kabut asapnya. Senang bisa berkenalan dengan kota itu dan juga budayanya.

Yah, demikianlah perjuangan mereview aku. Banyak yang ingin aku ceritakan tapi aku tahan-tahan karena tidak ingin memberikan spoiler yang akan membuat pengalamanmu membaca buku ini berkurang nantinya. Saranku, sih... segera ke toko buku, beli buku ini, dan temukan sendiri apa yang bikin aku ber-oooh dan ber-HAH itu. Atau ikutan giveaway di blog ini di postinganku berikutnya (baca: besok). Akan ada satu buku Persona gratis untuk kamu yang beruntung.


XOXO,


1 komentar:

Persona itu istilah dunia psikologi, ya? Kok kaya kenal kata itu :3

Poskan Komentar