Kamis, 30 April 2015

Cinta Masa Lalu by Nima Mumtaz


Membaca buku yang sebelumnya dipos online
(Wattpad/ Blog/ Forum/ dll)


Judul: Cinta Masa Lalu
Penulis: Nima Mumtaz
Genre: Romance, Drama, Family
Penerbit: Elex Media Komputindo
Format: Mass Market Paperback, 312 hal

Sinopsis:

Mimpi apa yang paling buruk bagi seorang gadis? Diperkosa dan mengandung pada usia 18 tahun tentu merupakan pengalaman paling buruk. Apalagi pelakunya adalah kekasih sepupumu.

Dan itulah yang terjadi pada Viona.

Review:

Aku membeli buku ini waktu launching Teater Boneka di JCC Senayan. Iya, udah lama banget buku ini tertimbun di rak buku. Buku ini waktu itu lagi didiskon karena ultah Gramedia. Jadi waktu aku melihat buku kecil ini, aku langsung mengambilnya terdorong oleh rasa penasaran karena sempat membaca beberapa review yang mengatakan buku ini awalnya diposting di Wattpad. Wah, ternyata ada juga penerbit yang menjaring penulis baru di sana. Sayang sekali kesan pertamaku saat melihat covernya kurang memuaskan. Kalau saja bukan karena rasa penasaran, mungkin aku tidak akan membeli buku ini. Iya, aku suka tanpa sadar menilai buku dari covernya. #ngakudosa

Lalu akhirnya, tibalah saat buku ini diangkat dari rak, lalu dibuka segelnya untuk dibaca. Terima kasih buat tema baca bareng BBI hahaha... dan rasa makin penasaran yang timbul selepas berkenalan langsung dengan penulisnya di GWP 2.

Tahu tidak...? Membaca buku ini ternyata mengacaukan emosiku! Awalnya aku pikir cerita ini akan mengisahkan seorang Viona yang menjadi korban pemerkosaan dan dibantu untuk move on oleh mantan pacarnya, lalu mereka CLBK dan jadian lagi. Eh, ternyata... cerita ini membawa si korban akhirnya jatuh cinta pada pelaku pemerkosaannya! Ew... rasanya kok gimana gitu, ya? Apalagi setelah membaca komentar-komentar orang pada sebuah review di Goodreads. Masa, sih si Nima mendukung pemerkosa mendapatkan cinta sejati?!

 


Tapi... tidak. Aku berusaha mengenyahkan pikiran itu dan membacanya sendiri. Barangkali ada penyebab kenapa Nima membuat cerita seperti ini, dan kenapa Viona bisa jatuh cinta sama orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Aku merasa aku akan memiliki pendapat yang berbeda.


Dan syukurlah, ternyata harapanku tidak berakhir sia-sia. Bertingkah masokis dengan terus membaca buku yang membuatku berulang kali ingin melempar dan membantingnya karena kesal dengan cara David (si pemerkosa sialan) berpikir dan bertingkah ternyata membuahkan hasil yang manis. 


Oh, tidak. Aku tidak jadi suka dengan David, tentu saja! Tapi kisah yang dituturkan Nima berhasil membuat aku mengerti kenapa keluarga Viona pada akhirnya rela menerima David dan si kecil Daiva yang ngegemesin banget itu dalam hidup mereka. Memang pada kasus seperti ini selalu ada pengecualian. Apalagi ketika si pendosa menunjukkan bahwa dia layak mendapatkan kesempatan kedua. Dan waktu yang dijalani David untuk mendapatkan penerimaan itu tidak sebentar, tidak gampang. David sudah menerima hukuman yang harus diterimanya. Ketulusan David itu yang berhasil membuat saya simpati sama dia, dan tidak kaget ketika Viona akhirnya luluh juga.


'Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.'
'Kasih itu memaafkan.' 
Quote di atas sangat cocok untuk mewakili isi dari kisah ini. Ada orang yang tetap ngelunjak setelah diberi kesempatan kedua (yang kayak gini lempar aja ke laut), tapi ada juga yang seperti David, mengambil kesempatan itu dengan sepenuh hati. Kalau Tuhan saja bisa memaafkan dosa umatnya yang jauh lebih besar, masa manusia tidak mau memaafkan sesamanya?


Di luar dari kesalahan teknis seperti typo, cover jelek, dan lainnya... aku mengacungkan jempol buat cerita yang dibuat Nima ini.



Warning: 
Cerita ini menyebabkan marah besar, kemungkinan menghancurkan buku tanpa sadar, nangis bombay, dan senyum-senyum sendiri.

Udah dulu, ya. Sampai ketemu di review selanjutnyaaaa!



XOXO,









PS. Cuma aku doang yang ngerasa gini atau memang Juna itu bawel dan lebay? Tiap bagian dia kayaknya banyak banget tanda seru dan tanda tanya bertebaran, plus cara ngomongnya yang serba heboh dalam segala suasana untuk ukuran cowok. Emang ada, sih, cowok yang begini... tapi so-not-my-type. #yaemangJunabukanbuatlo

2 komentar:

Hahahahah komennya gitu doaaang?! =))

Poskan Komentar