Jumat, 30 Agustus 2013

Silent Honor by Danielle Steel


Judul: Silent Honor
Penulis: Danielle Steel
Genre: Historical Fiction, Romance, War
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (1999)
Sinopsis:

Hiroko, seorang gadis Jepang yang manis dan pemalu datang ke Amerika demi ayahnya, yang ingin putrinya mengenal dunia Barat yang amat dipujanya. Namun nyatanya Amerika tidak menerima Hiroko, mendudukkannya di kelas bawah yang sejajar dengan pelayan, menjauhinya karena fisiknya, tanpa peduli pribadi apa yang ada di balik wajah Timur itu. Tapi ia menerima semuanya dengan lapang dada, sebab Amerika juga telah mempertemukannya dengan kekasih pujaannya, Peter Jenkins, pria kulit putih yang tampan dan amat memuja kebudayaan Jepang, walaupun saat itu kedua negara mereka saling berperang di medan tempur.

Cinta mereka bersemi, namun perang memisahkan mereka. Peter maju bertempur, sementara Hiroko terperangkap di Amerika. Bersama orang-orang berdarah Jepang lainnya, mereka dimasukkan ke kamp-kamp pengasingan. Hiroko tersentak kaget oleh ketidakadilan yang beruntun diterimanya. Hatinya hancur, harga dirinya diinjak-injak, hak-haknya diperkosa. Namun ia tidak membiarkan semua itu menghancurkan kehormatan yang telah ditanamkan oleh orangtuanya dalam dirinya sejak ia masih kecil dulu. Dan ia juga tidak membiarkan rasa curiga dan tangan-tangan kotor perang menyentuh kesucian cintanya pada Peter....


My Review:


Ini adalah kali keduaku membaca Silent Honor. Pertama kali sekitar sepuluh tahun yang lalu, jadi aku hampir tidak ingat apa-apa soal buku ini selain kesan yang aku dapatkan dulu. Jadi, dulu aku merasa buku ini bagus banget, sampai aku sedih sekali ketika buku ini raib dari rak bukuku bersama beberapa buku lainnya yang aku masih belum tahu apa aja. Akhirnya, bulan ini aku beli lagi beberapa buku Danielle Steel yang kebetulan dijual murah karena buku bekas, termasuk buku ini. Setelah memilah-milah buku apa yang akan aku baca untuk tema perang, Silent Honor yang kuambil. Selain karena nggak terlalu tebal (sekitar 300an halaman), aku memang kepengen baca ulang.

Nah, untunglah kesan yang dulu aku dapat tidak terlalu banyak berubah. Aku masih sangat menyukai buku ini walau aku sekarang menyadari betapa sunyinya cara Mrs. Steel bercerita. Rasanya lebih seperti sedang menonton film dokumentari tentang kehidupan Hiroko sejak kecil sampai dewasa, juga semasa perang antara Amerika dengan Jepang.

Mengambil setting tahun 1942, warga Jepang saat itu sudah pasti masih kuno sekali. Terutama kaum wanitanya yang memang pada jaman itu hidup untuk melayani suaminya (entah kalau sekarang ya... kayaknya hampir nggak ada lagi yang memegang cara-cara kuno, atau mungkin di desa-desa masih ada). Mereka bahkan tidak menolak dijodohkan oleh orangtua, dan selama hidup dengan suaminya, mereka lebih banyak menundukkan kepala dan tidak bertatapan mata dengan alasan menghormati suami.

Cerita ini diawali dengan menceritakan tentang kedua orangtua Hiroko, yaitu Masao yang berpikiran modern dan sangat memuja Amerika, dan Hidemi yang sangat memegang teguh cara-cara tradisional sampai-sampai dia bersikeras melahirkan di rumah dengan bantuan ibu dan kakaknya daripada mengikuti saran suaminya untuk melahirkan di rumah sakit. Hiroko, putri pertama mereka, seperti duplikat dari Hidemi. Hiroko sangat pemalu, sangat kuno, tapi demi ayahnya dia mau pergi ke Amerika. Sementara itu, adiknya--Yuji--lebih mirip dengan Masao.

Di Amerika, Hiroko ternyata tidak diterima karena kebanyakan orang Jepang di sana ternyata bekerja sebagai pelayan, atau pekerjaan rendah lainnya. Lebih parah lagi ketika tentara Jepang mulai melancarkan serangan ke Amerika. Wah, terasa sekali rasisnya. Apalagi ketika orang-orang Amerika menyalahkan semua orang Jepang yang ada di Amerika tanpa mikir bahwa mereka semua tidak punya peranan apa pun dalam penyerangan itu. Dan begitu perang pecah, orang-orang Jepang maupun keturunan Jepang yang lahir dan besar di Amerika dipaksa untuk masuk ke kamp-kamp. Hidup mereka di sana berat sekali. Kekurangan makanan, kekurangan obat-obatan, sering terkena wabah penyakit, sampai pada akhirnya satu per satu mulai pergi meninggalkan mereka.

Gambaran keadaan di buku ini sangat jelas sehingga aku bisa membayangkan seperti apa rasanya kehidupan Hiroko bersama keluarga pamannya di Amerika saat mereka dipaksa untuk mengungsi dan diperlakukan seperti penjahat perang. Percintaan antara Hiroko dengan seorang pria Amerika bernama Peter juga terasa sangat manis. Cinta mereka kuat sekali, dan aku kagum karenanya.

Semoga tidak akan pernah ada perang lagi di dunia.



3 komentar:

wah kisah tentang Jepang rasanya selalu menarik untuk dibaca, jadi kepingin baca juga nih :)

Bagus, Mas Tezar :D kalau mau pinjam punyaku boleh kok :D

Kalo mau beli novel bekasnya juga boleh, murah kok cuma 25 ribu,ke sini aja, http://www.aksiku.com/2013/10/jual-novel-bekas-danielle-steel-silent.html

Poskan Komentar