Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Oktober 2018

[BLOG TOUR] Review SONG FOR ALICE + Photo Challenge!

Mencintaimu adalah penantian yang panjang.

•••

★★★★★
Judul: Song For Alice
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (TWIGORA)
Genre: Romance, New Adult
Format: Paperback, 328 halaman
Harga: Rp 85,000

•••




Sinopsis:

SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMU ADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.

Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice—perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta.

Memang benar, Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu. 

Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruang tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?

Sabtu, 20 Oktober 2018

[BLOG TOUR] Wawancara Bersama Kak Windry Ramadhina


Topik utama hari ini:
Orin si Penguin

NGEWAWANCARA

Kak Windry

Halo, halo, teman-teman dan para pengunjung semuanya! Apa kabar, nih? Akhirnya, setelah cukup lama waktu berlalu, Orinthia's Bookshelf muncul kembali sebagai Host untuk Blog Tour novel terbarunya Kak Windry Ramadhina yang berjudul Song for Alice. Di mata aku, kayaknya ini cover novel Kak Windry yang paling cantik, deh. Sederhana desainnya dan warnanya juga warna favorit aku banget. Paket komplit favorit Orinthia. Hehehe.

Seperti di dalam jadwal yang tertera pada banner di atas, Orinthia's Bookshelf mendapatkan kehormatan menjadi pembuka rangkaian blog tour yang akan berlangsung sampai tanggal 9 November 2018 nanti. Jangan lupa untuk terus mengikuti seluruh rangkaiannya, ya. Apalagi kalau kepengin banget punya satu eksemplar buku ini secara gratis. Di blog ini sendiri, giveaway-nya bakal diadakan pada tanggal 22 Oktober 2018.

Tapiiiii... sebelum mikirin soal gratisan, ayo kenalan dulu sedikit sama Kak Windry!



WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; percaya atau tidak, mampu mendengarkan berbagai bentuk rock, yang paling keras sekalipun. Dia menulis fiksi sejak 2007. Buku-bukunya banyak bercerita tentang cinta, kehidupan, impian, dan harapan. Song for Alice adalah bukunya yang kesebelas.

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@gmail.com, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com.


Nah, sekarang mari kita mulai saja yah wawancaranya!




Halo, Kak Windry. Apa kabar? Senang sekali bisa mendapat kesempatan buat tanya-jawab dengan kakak. Pertanyaan pertama, SONG FOR ALICE kan buku kesebelas yang kakak tulis, boleh tahu nggak apa sih yang membedakan buku ini dibandingkan buku-buku kakak yang lain? Dari mana kakak dapat idenya?


•••

Minggu, 24 April 2016

Persona by Fakhrisina Amalia

★★★★★
Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: realistic fiction, drama, young adult
Format: Paperback, 248 halaman

•••

Sinopsis:

Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

•••

Review:

Peringatan pertama, jangan terlalu percaya pada sinopsis yang menyesatkan. Hahaha. Sinopsis di belakang buku ini menyiratkan kisah cinta segitiga yang sangat kental. Tapi percayalah, novel ini memberikan lebih dari sekadar cinta segitiga!

Kamis, 30 April 2015

Cinta Masa Lalu by Nima Mumtaz


Membaca buku yang sebelumnya dipos online
(Wattpad/ Blog/ Forum/ dll)


♥♥♥
Judul: Cinta Masa Lalu
Penulis: Nima Mumtaz
Genre: Romance, Drama, Family
Penerbit: Elex Media Komputindo
Format: Mass Market Paperback, 312 hal

Sinopsis:

Mimpi apa yang paling buruk bagi seorang gadis? Diperkosa dan mengandung pada usia 18 tahun tentu merupakan pengalaman paling buruk. Apalagi pelakunya adalah kekasih sepupumu.

Dan itulah yang terjadi pada Viona.

Review:

Aku membeli buku ini waktu launching Teater Boneka di JCC Senayan. Iya, udah lama banget buku ini tertimbun di rak buku. Buku ini waktu itu lagi didiskon karena ultah Gramedia. Jadi waktu aku melihat buku kecil ini, aku langsung mengambilnya terdorong oleh rasa penasaran karena sempat membaca beberapa review yang mengatakan buku ini awalnya diposting di Wattpad. Wah, ternyata ada juga penerbit yang menjaring penulis baru di sana. Sayang sekali kesan pertamaku saat melihat covernya kurang memuaskan. Kalau saja bukan karena rasa penasaran, mungkin aku tidak akan membeli buku ini. Iya, aku suka tanpa sadar menilai buku dari covernya. #ngakudosa

Lalu akhirnya, tibalah saat buku ini diangkat dari rak, lalu dibuka segelnya untuk dibaca. Terima kasih buat tema baca bareng BBI hahaha... dan rasa makin penasaran yang timbul selepas berkenalan langsung dengan penulisnya di GWP 2.

Tahu tidak...? Membaca buku ini ternyata mengacaukan emosiku! Awalnya aku pikir cerita ini akan mengisahkan seorang Viona yang menjadi korban pemerkosaan dan dibantu untuk move on oleh mantan pacarnya, lalu mereka CLBK dan jadian lagi. Eh, ternyata... cerita ini membawa si korban akhirnya jatuh cinta pada pelaku pemerkosaannya! Ew... rasanya kok gimana gitu, ya? Apalagi setelah membaca komentar-komentar orang pada sebuah review di Goodreads. Masa, sih si Nima mendukung pemerkosa mendapatkan cinta sejati?!

 


Tapi... tidak. Aku berusaha mengenyahkan pikiran itu dan membacanya sendiri. Barangkali ada penyebab kenapa Nima membuat cerita seperti ini, dan kenapa Viona bisa jatuh cinta sama orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Aku merasa aku akan memiliki pendapat yang berbeda.


Dan syukurlah, ternyata harapanku tidak berakhir sia-sia. Bertingkah masokis dengan terus membaca buku yang membuatku berulang kali ingin melempar dan membantingnya karena kesal dengan cara David (si pemerkosa sialan) berpikir dan bertingkah ternyata membuahkan hasil yang manis. 


Oh, tidak. Aku tidak jadi suka dengan David, tentu saja! Tapi kisah yang dituturkan Nima berhasil membuat aku mengerti kenapa keluarga Viona pada akhirnya rela menerima David dan si kecil Daiva yang ngegemesin banget itu dalam hidup mereka. Memang pada kasus seperti ini selalu ada pengecualian. Apalagi ketika si pendosa menunjukkan bahwa dia layak mendapatkan kesempatan kedua. Dan waktu yang dijalani David untuk mendapatkan penerimaan itu tidak sebentar, tidak gampang. David sudah menerima hukuman yang harus diterimanya. Ketulusan David itu yang berhasil membuat saya simpati sama dia, dan tidak kaget ketika Viona akhirnya luluh juga.


'Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.'
'Kasih itu memaafkan.' 
Quote di atas sangat cocok untuk mewakili isi dari kisah ini. Ada orang yang tetap ngelunjak setelah diberi kesempatan kedua (yang kayak gini lempar aja ke laut), tapi ada juga yang seperti David, mengambil kesempatan itu dengan sepenuh hati. Kalau Tuhan saja bisa memaafkan dosa umatnya yang jauh lebih besar, masa manusia tidak mau memaafkan sesamanya?


Di luar dari kesalahan teknis seperti typo, cover jelek, dan lainnya... aku mengacungkan jempol buat cerita yang dibuat Nima ini.



Warning: 
Cerita ini menyebabkan marah besar, kemungkinan menghancurkan buku tanpa sadar, nangis bombay, dan senyum-senyum sendiri.

Udah dulu, ya. Sampai ketemu di review selanjutnyaaaa!



XOXO,









PS. Cuma aku doang yang ngerasa gini atau memang Juna itu bawel dan lebay? Tiap bagian dia kayaknya banyak banget tanda seru dan tanda tanya bertebaran, plus cara ngomongnya yang serba heboh dalam segala suasana untuk ukuran cowok. Emang ada, sih, cowok yang begini... tapi so-not-my-type. #yaemangJunabukanbuatlo

Selasa, 27 Agustus 2013

A Rose for Melinda by Lurlene McDaniel

4 stars
Judul: A Rose for Melinda
Penulis: Lurlene McDaniel
Genre: romance, YA, inspirational, drama
Format: ebook
Sinopsis:

Told in letters, journal entries, e-mails, doctors’ reports, and instant messages, the heartbreaking story of an aspiring ballet dancer battling leukemia. 

From: Melinda Skye
To: Readers
Subject: Jesse

Hi! I can’t believe it. What a surprise from Jesse. When he got my e-mail about being accepted by the Washington School of Classical Dance’s summer program, he called to congratulate me! I loved hearing his voice. We’ve been friends forever–could it turn into something more?

Melinda

---


From: Jesse Rose
To: Readers 
Subject: Melinda

I couldn’t believe the news. Melinda is so young! How could she be sick? How did she get leukemia? She’s got to get better. She’s got to. 

Jesse

Senin, 27 Mei 2013

Oppa & I by Orizuka dan Lia Indra Andriana

3 stars
Judul: Oppa & I
Penulis: Orizuka & Lia Indra Andriana
Genre: teenlit, drama, family, romance
Sinopsis:

Park Jae In:

‘Oppa’.

Apa panggilan itu tidak terdengar lucu? Terutama setelah kau pergi meninggalkanku begitu saja lima tahun lalu?

Sekarang saat bertemu lagi, apa yang membuat senyummu selebar itu?

Apa kau senang melihatku seperti ini?

Park Jae Kwon:

Jae In-a.

Kau dulu menggemaskan, tetapi sekarang mengapa begini? Siapa yang membuatmu susah, katakan pada Oppa!

Oppa tak akan membiarkan siapapun menyakitimu!

Oppa akan melindungimu!

Jumat, 15 Maret 2013

Till We Meet Again by Yoana Dianika

4 stars
Judul: Till We Meet Again
Penulis: Yoana Dianika
Genre: teenlit, romance
Sinopsis:


Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali. 

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi. Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.

Sabtu, 09 Maret 2013

Seoul Cinderella by Lia Indra Andriana


3 stars
Judul: Seoul Cinderella
Penulis: Lia Indra Andriana
Genre: drama, romance
Sinopsis:

Aku memandangi wajah di depanku dan menyadari bahwa ia seorang Cinderella. 

Seorang Cinderella pasti pandai memasak, kan?

Ia menyajikan sebuah masakan, tapi aku tahu ia menghidangkan makanan siap saji yang entah ia beli di mana.

Lalu, apa yang ia lakukan berpura-pura menjadi seorang Cinderella?

Ah, manusia jadi menarik jika punya rahasia, kan?


My Review:
Aku suka tema ceritanya, plotnya menarik dan endingnya pun bagus. Sayangnya pas dibaca alurnya kurang mengalir, kadang bikin dahi mengernyit karena bingung. Tapi wajar, ini buku pertamanya Lia, kan? Dua buku Lia yang udah kubaca sebelum buku ini udah terlihat banget perkembangannya. Suka banget. Jarang-jarang ada cerita yang mengambil kerjaan tokoh utamanya seorang PRT, di Korea pula. Tema Cinderella yang diambil juga sebenernya unik, cuma di beberapa bagian eksekusinya jadi mirip sinetron hehehe...

Secara keseluruhan, aku menikmati buku ini, kok. Menghibur :3

Jumat, 15 Februari 2013

For One More Day by Mitch Albom

5 Stars
Judul: For One More Day (Satu Hari Bersamamu)
Penulis: Mitch Albom
Genre: Drama, Inspirational
Sinopsis:


For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kau sayangi, yang telah tiada?

Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi "anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya." Maka dia memilih ayahnya, memujanya---namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh.

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya---yang meninggal delapan tahun silam---masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa.

My Review:

Ini buku kedua Mitch Albom yang saya baca. Ceritanya lebih ringan daripada Tuesdays with Morrie, tapi buat saya kesan yang ditinggalkan Tuesdays with Morrie jauh lebih dalam. Meskipun begitu, bukan berarti buku ini tidak bagus, buktinya saya memberi buku ini bintang lima. Hehe. Buku ini juga penuh dengan nilai moral yang bisa dipetik untuk dijalani dalam kehidupan, juga untuk introspeksi diri terutama dalam hubungan antara anggota keluarga.

Buku ini sedikit mengingatkan saya dengan bukunya Shel Silverstein yang The Giving Tree. Di mana ibu Charley selalu mencintai Charley dengan tulus, memberikan semua yang bisa diberikan meskipun Charley tak pernah sekali pun membelanya. Saya suka sekali tiap-tiap bab yang menceritakan waktu-waktu ketika ibu membela Charley dan Charley tidak membela ibu. Saya jadi mengingat kembali bagaimana hubungan saya dengan ibu saya sendiri. Seringkali seorang anak memang tidak menyadari 'cinta' seseorang yang begitu dekat sampai akhirnya kehilangan seseorang itu. Dan saya tidak mau kalau saya harus menyesal seperti itu, karena kesempatan ajaib seperti yang dialami Charley itu sangat langka.

Buku ini bikin saya pengin peluk ibu saya terus jadinya. Bikin saya nggak mau sampai nyakitin perasaannya.

Sekian xDDD

Minggu, 03 Februari 2013

Kehidupan di Pintu Kulkas by Alice Kuipers

5 stars
Judul:
Life on The Refrigerator Door / Kehidupan di Pintu Kulkas
Penulis: Alice Kuipers
Genre: Slice of life, Drama
Sinopsis:

KALAU HIDUPMU TAHU-TAHU BERANTAKAN, SANGGUPKAH KAU BERPEGANG PADA CINTA?

Kehidupan di Pintu Kulkas adalah tentang pesan-pesan di kulkas antara seorang ibu dan putri remajanya, Claire. Pesan yang dibuka dengan kehidupan yang serba bergegas, tak ada waktu untuk bicara dan bertemu, kemudian berkembang menjadi sesuatu yang sangat dalam: kesadaran bahwa cinta berarti menyediakan diri kita bagi orang yang kita cintai.

My Review:
Buku ini begitu sederhana, selesai dalam sekali baca. Isinya, seperti yang tertulis di sinopsis adalah percakapan antara seorang ibu dan putrinya lewat pesan-pesan di kulkas. Meski hanya berupa pesan-pesan, pembaca bisa ikut merasakan apa yang tengah dialami kedua tokoh ini, bisa membayangkan apa yang tengah terjadi di antara keduanya.

Bagi saya pribadi, buku ini membuat saya kembali berpikir... seberapa jauh saya mengenal ibu saya? Seberapa banyak percakapan bermutu yang saya lakukan dengan beliau? Terlebih lagi pertemuan saya dengan ibu saya jauh lebih sering daripada Claire dengan ibunya. Dan juga, buku ini mengingatkan saya... untuk melakukan yang terbaik ketika masih bisa, ketika belum terlambat.

Buku sederhana ini bisa membuat saya meneteskan air mata (atau saya yang memang cengeng, ya?) dan meninggalkan kesan yang dalam. Jadi, bintang 5 saya hadiahkan untuk buku ini.

Senin, 21 Januari 2013

Tuesdays with Morrie by Mitch Albom


5 stars or more!
Judul: Tuesdays with Morrie
Penulis: Mitch Albom
Genre: Inspirational, Non-Fiction, Memoir, Psychology
Sinopsis:

"Saya suka buku ini... sebuah kisah nyata yang seperti lembayung senja masih meninggalkan terang dan kehangatannya bagi kita." Amy Tan

Bagi Anda mungkin ia sosok orangtua, guru, atau teman sejawat. Seseorang yang lebih berumur, sabar dan arif, yang memahami Anda sebagai orang muda penuh gelora, yang membantu Anda memandang dunia sebagai tempat yang lebih indah, dan memberitahu Anda cara terbaik untuk mengarunginya. Bagi Mitch Albom, orang itu adalah Morrie Schwartz, seorang mahaguru yang pernah menjadi dosennya hampir dua puluh tahun yang lampau.

Barangkali, seperti Mitch, Anda kehilangan kontak dengan sang guru sejalan dengan berlalunya waktu, banyaknya kesibukan, dan semakin dinginnya hubungan antarmanusia. Tidakkah Anda ingin bertemu dengannya lagi, untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan besar yang masih menghantui Anda, dan menimba kearifan guna menghadapi hari-hari sibuk Anda dengan cara seperti ketika Anda masih muda? 

Bagi Mitch Albom kesempatan kedua itu ada karena suatu keajaiban telah mempertemukannya kembali dengan Morrie pada bulan-bulan terakhir hidupnya. Keakraban yang segera hidup kembali di antara guru dan murid itu sekaligus menjadi sebuah ''kuliah'' akhir: kuliah tentang cara menjalani hidup. Selasa Bersama Morrie menghadirkan sebuah laporan rinci luarbiasa seputar kebersamaan mereka.

My Review:

Rasanya tidak salah kalau saya bilang buku ini bukan sekedar bacaan semata tapi sebuah hadiah yang bakal terus saya ingat sampai seumur hidup saya. Tiab bab buku ini mengajarkan banyak sekali hal berharga tentang kehidupan, hal-hal yang membuka mata saya lebih lagi tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan lebih baik... juga menyadarkan saya bahwa hal-hal yang sudah berlalu dari hidup saya juga merupakan pelajaran tersendiri yang begitu berharga.

Dan tentunya, buku ini juga memberikan semangat baru buat saya (dan saya yakin juga buat semua orang yang membacanya) untuk menyikapi hidup dengan pandangan yang benar. Bahwa tujuan hidup manusia bukanlah harta, status, popularitas... tapi untuk memberikan hidup kita buat orang-orang yang ada di sekitar kita dengan penuh kasih.

Ada satu kisah yang diceritakan Morrie di buku ini yang membuat saya tersenyum. Dulu, saya selalu merasa sesak bila harus terus-terusan ada di rumah bersama keluarga saya. Ada-ada saja alasan yang saya temukan untuk saya berkeluh-kesah hingga akhirnya membuat saya merasa muak dan ingin pergi jauh-jauh, tinggal sendiri dan berpikir dengan begitu saya bisa menjalani hidup saya dengan lebih baik.

Saya... adalah tipikal orang yang tak bisa dengan mudah mengungkapkan apa yang ada di hati saya pada orang-orang rumah karena trauma masa kecil di mana saya merasa tidak satu pun dari mereka yang mau tahu apa yang saya inginkan dan mereka seringkali menyepelekan apa yang saya cita-citakan.. bahkan menjatuhkan saya dengan berkata saya tak mungkin menggapai apa yang saya impikan. Dan itu menyebabkan saya sampai dewasa merasa saya tak perlu lagi mengatakan apa-apa karena saya takut dengan penolakan yang mungkin akan saya dapatkan. Lalu pada suatu hari saya mengetahui saya sakit. Dan penyakit itu membuat saya melepas mimpi-mimpi saya. Keinginan saya untuk menjadi penyanyi, keinginan saya untuk bekerja di bidang entertainmen... sampai gairah saya untuk menulis cerita. semuanya lenyap begitu saja karena saya begitu mengasihani diri saya sendiri. Kebodohan lain yang kemudian menyusul, saya benar-benar pergi dari rumah. Saya sengaja mencari pekerjaan yang membuat saya harus menyewa kamar kos dan pulang seminggu sekali.

Saat itu... saya merasakan kebebasan. Saya tak perlu mendengar hal-hal yang tak ingin saya dengar. Saya juga tak perlu takut ketahuan ketika penyakit saya kambuh dan membuat saya terpaksa menahan rintihan saya. Juga... saya memang waktu itu berpikir untuk tidak menambah kesulitan keluarga yang sedang bangkrut.

Saya tahu perbuatan saya waktu itu salah. Tapi tetap saja... seperti yang Tuhan katakan lewat firman-Nya, tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa campur tangan-Nya. Semua hal yang terjadi adalah rencana-Nya. Dan semuanya adalah baik.

Karena saya sakit, banyak teman-teman yang meninggalkan saya. Satu per satu mulai hilang. Teman yang biasanya menelepon saya setiap minggu untuk mengajak saya jalan-jalan, hilang. Saya tahu mereka malas mengajak saya karena tubuh saya yang lemah waktu itu seringkali menghambat dan membuat acara yang seharusnya menyenangkan jadi tidak enak. Dan saya cukup tahu diri untuk menyadari bahwa keberadaan saya membebani mereka. Membuat kesenangan mereka berkurang. Jadi, saya tidak berusaha mencari mereka. Saya menikmati kesendirian saya.

Banyak yang pergi... tapi ternyata Tuhan memang tidak pernah meninggalkan saya. Dia memberi saya teman-teman baru yang dengan senang hati membantu saya, menolong saya tiap kali saya butuh. Teman-teman yang selalu datang saat saya menelepon mereka, teman-teman yang siap ketika penyakit saya kambuh di tempat yang tidak tepat. Mereka mau menggandeng saya, membawakan barang-barang saya. Saya jadi tahu... siapa yang benar-benar teman sejati dan siapa yang bukan.

Teman-teman baru saya ini selalu memaksa saya untuk pulang ke rumah karena mereka khawatir dengan kondisi saya. Tapi waktu itu saya selalu berkelit. Selalu menolak. Meski begitu pada akhirnya, saya memutuskan untuk pulang lagi ke rumah. Menghadapi semuanya. Memberitahu orangtua tentang kesehatan saya dan menjalani apa pun yang harus saya jalani. Ajaibnya, tak lama setelah itu kesehatan saya berangsur-angsur pulih... saya tak perlu menjalani pengobatan yang seharusnya dijalani oleh orang-orang yang mengalami penyakit seperti saya. Saya sembuh.

Ketika saya membaca kata-kata Morrie tentang keluargalah... saya sadar bahwa di dunia ini... orang-orang yang akan terus ada di samping saya adalah keluarga. Orang-orang yang mati-matian saya hindari selama ini. Saya tak bisa menggantungkan diri pada teman, pada pacar... karena pada akhirnya, yang akan selalu ada di sisi saya dan mendukung saya adalah orangtua saya.

Buku Tuesdays with Morrie ini... kalau harus dijabarkan satu per satu... bisa-bisa review saya akan jadi satu buku sendiri. Daripada begitu... bukankah lebih baik kalau Anda membacanya sendiri dan mendapatkan pengalaman pribadi bersama Morrie?

Dan selalu ingat... bahwa Tuhan selalu bekerja pada waktu-Nya. Di waktu yang tepat, bukan di waktu yang kita inginkan. Saya yang sempat merasa mimpi saya sudah berakhir, ternyata kini diberikan jalan untuk menggapai salah satu mimpi saya... untuk menjadi penulis. Saya... akan mendaki bukit mimpi saya dengan sebaik-baiknya meski perjalanan itu bukanlah perjalanan yang mudah. Saya akan terus maju.

SEMANGAT!!